Rabu, 24 Juni 2009

PENCARIAN TAQDIR
Pada kaca jendela sebuah mushola aku memandangi titik-titik air hujan yang memercik. Satu, dua, tiga, empat, kemudian berkumpul menjadi satu dan mengalir perlahan ke bawah, begitu seterusnya. Dan tentu saja ketika ia terjatuh ke tanah, ia akan berkumpul dengan yang lain untuk kemudian mengalir bersama ke parit, ke sungai dan akhirnya ke laut. Mungkin begitulah seharusnya. Perputaran segala sesuatu yang Tuhan ciptakan. Percik air yang tadi pun kelak akan menjadi hujan kembali. Berputar, begitulah seharusnya. Tapi apakah aku serupa dengannya.

Mungkin sekarang aku tengah berada dalam perjalanan menuju parit ataupun selokan-selokan. Kadang harus kutemui bangkai dan sampah yang mengotoriku dan menyumbatku hingga aku berhenti mengalir dan hanya bisa berputar-putar membentuk pusaran-pusaran kecil yang tak akan pernah sampai ke laut.

Atau mungkin aku sekarang adalah seekor belalang kecil yang aku lihat tengah melompat-lompat di kaca itu mencari jalan keluar. Dia telah terlupa dari mana dia masuk dan kini dia tak lagi bisa membedakan antara kaca dan lubang angin tempat dia masuk yang akan menjadi tempat dia keluar. Dia pikir tidak ada kaca di sana, karena dengan jelas dia dapat melihat keluar. Terus-menerus dia melompat dan menabrak lagi kaca itu hingga akhirnya dia lelah dan tersungkur pasrah di pojok kusen jendela.

Atau mungkin aku hanyalah seekor burung gereja yang hinggap sendirian di atap rumah sebelah mencari perlindungan dari hujan. Terlihat dia kedinginan setelah ia terbang menembus hujan yang sejak satu jam yang lalu belum juga usai. Bulu-bulunya basah kuyup. Tampaknya ia telah lelah untuk mencari jalan pulang, mencari kawanannya, mencari pasangannya. Kini ia tinggal hinggap dan menunggu sampai hujan berhenti untuk kemudian terbang lagi. Itupun kalau memang dia masih punya sisa energi untuk terbang, kalau tidak, mungkin dia kini tengah menunggu angin yang akan menghembusnya hingga ia terjatuh dan mati.

Dua puluh satu tahun lebih telah kujalani hidup. Tak seperti manusia lain yang aku kenal, batu kerikil dan duri tak lepas dari setapak yang telah dan akan kulewati. Kadang aku terjatuh karena aku berlari tergesa hingga tak menyadari ada akar pohon melintang di jalanku. Sering pula aku terpeleset ketika aku mencoba melompat melewati batu-batu besar yang berserakan di depanku. Luka di kaki tertusuk duri dan kerikil tajam, lecet dan memar ketika aku terjatuh pun memenuhi sekujur tubuhku. Tapi aku masih terus melangkah membelah belantara berharap ‘kan kutemukan padang rumput hijau di tepi danau tempatku akan istirah melepas lelah dan berbaring menatap birunya langit, mendengar nyanyian bunga-bunga.

Dan aku masih percaya, itulah rangkaian sebab yang harus aku jalani untuk menuju akibat yan akan kutemui nanti. Karena memang, segala apa yang terjadi di dunia hanyalah rangkaian sebab akibat. Dan Tuhanlah sebab utama, Causa Prima. Tak ada sebab bagi keberadaan Dia. Adanya mahluk bukan menjadi sebab keberadaan Tuhan. Tetapi keberadaan Tuhan menjadi sebab bagi keberadaan mahluk. Adanya aku, karena Tuhan ada. Tidak adanya aku, Tuhan tetap akan ada. Dan perjalanan ini pn karena ku ada. Aku ada karena Tuhan ada. Perjalanan ini, takdir ini memang telah menjadi akibat dari keberadaan Tuhan.

Aku masih di sini, di sudut sebuah mushola tempat aku sering berjumpa dan mengadu kepada Tuhanku. Kutebar pandanganku ke sekeliling, hujan masih saja turun. Meski tak sederas sebelumnya, tapi cukup untuk membuat orang-orang enggan untuk keluar sore ini. Pun aku, aku enggan untuk melangkah barang lima atau sepuluh langkah untuk sampai di tempat kostku. Kupikir, buat apa aku kembali ke kamar kostku, toh tidak ada yang perlu aku lakukan di sana. Sama seperti hari-hari sebelumnya, hanya menggembala imagi ke tempat-tempat yang pernah kusinggahi, waktu yang telah terlewati, pun ke tempat-tempat yang sama sekali asing yang hanya menjadi fantasiku saja. Mencoba mereka-reka hari esok, dan berpikir tentang pertanyaan-pertanyaan bagaimana, seandainya, dan mengapa. Tak pernah kutemukan jawaban yang pasti, hanya pandangan-pandangan subjektif dari rasioku saja yang mencoba untuk menjawabnya.

Masih teringat ketika semalam aku berjumpa dengan Tuhan dan menangis mengadu mengharap keniscayaan apa yang telah aku mintakan. Namun Dia hanya terdiam membiarkan tangisku mereda sendiri dan membiarkan akal dan imagiku mereka-reka apa yang Dia ucapkan. Setiap tengah malam selalu seperti itu. Dia hanya berdiam diri, tapi aku yakin dia mendengar keluhanku dan suatu saat Dia akan meniscayakan itu.

Yang aku minta bukanlah hal yang istimewa. Bukan aku ingin kaya, bukan ingin pintar, bukan pula aku ingin cepat mendapat pacar. Pun aku tidak meminta agar semua orang menyukaiku ataupun menghargai dan menghormatiku. Yang aku minta hanya satu, Jadikan kegetiran dan penderitaan yang menimpaku selama ini hingga sekarang menjadi sebab untuk kemenangan dan kebahagiaanku pada akhirnya nanti. Dia Maha Tahu apa yang aku ingin terjadi sore ini, malam nanti, esok hari dan waktu-waktu selanjutnya. Kalau memang itu yang terbaik untuk saatnya, niscayakanlah. Memang saat ini banyak sekali permasalahan yang memnuhi isi otakku hingga ingin rasanya aku membelah kepalaku dan memburai seluruh isi otakku hingga tak ada lagi pikiran-pikiran yang menyesaki dan memenatiku. Karena mungkin hanya kematian lah yang mampu membebaskanku dari kegetiran ini. Tapi ternyata Tuhan masih punya rencana lain yang lebih besar daripada rencana yang aku pikirkan untuk diriku sendiri. Nyatanya, Dia masih membiarkanku hidup sampai saat ini.

Di sini, di mushola ini, semuanya berawal. Perjumpaan, hari-hari yang telah terlewati, mimpi-mimpi dan kenyataan yang telah terjadi. Tentang takdir, tentang pencarian, tentang cinta, tentang tanggungjawab. Kupikir telah menjadi takdirku untuk berada di sini. Telah menjadi takdirku untuk mencintai. Dan kupikir ini adalah akibat dari semua kegetiran yang pernah kualami dulu. Tapi ternyata aku salah. Ini masih menjadi rangkaian sebab, belum berakhir. Kegetiran itu masih terus akan ada. Dia yang telah menjadi alasanku untuk tetap berada di sini, ternyata bukan takdirku untuk saat ini, mungkin nanti. Aku masih percaya Tuhan akan memberi yang terbaik untukku. Mungkin nanti, bukan saat seperti ini.

Ya, bukan saat seperti ini. Saat aku hanya bisa bersetubuh dengan imagi. Saat aku hanya bisa berkutat pada konsep Dan rencana-rencana tentang masa depan tanpa bisa melahirkannya menjadi sebuah langkah nyata. Saat aku begitu terkungkung dan mendekam dalam kegetiran. Saat aku hanya bisa menyesali atas apa yang tidak aku dapatkan. Bukan saat seperti ini.
Aku bukanlah pipit yang tak pernah terbang sendirian, dan ketika terpisah dari kumpulannya, dia akan kesepian dan mati. Aku bukanlah air selokan yang tak pernah mengalir ke laut, hanya bisa berputar-putar membentuk pusaran kecil. Dan aku juga bukanlah belalang kecil yang lelah dan menyerah ketika dia tidak menemukan jalan keluar dan tertipu oleh penglihatannya sendiri.
Aku adalah elang yang tak pernah takut untuk terbang sendirian, mengeksplorasi angkasa, melayang menjelajah semesta. Aku adalah air beriak yang akan terus mengalir. Meski batu dan kayu menghalangi, ia akan tetap mencari celah untuk tetap bermuara menjemput samudra. Aku adalah rerumputan yang tak pernah berhenti mencari celah untuk hidup, meski di bebatuan.
Dan pada akhirnya semua memang butuh alasan untuk bertahan, untuk tetap ada, tetap hidup. Burung gereja kedinginan dan kesepian tadi pun kini telah terbang entah kemana. Dia masih punya alasan untuk tetap terbang. Ingin menemui saudaranya, ingin berkumpul kembali dengan kawanannya. Aku akan tetap mengalir, perlahan, dan berkelok-kelok melewati bebatuan mencari jalan menuju muara. Karena aku percaya, yang terjadi kini hanyalah sebuah sebab yang akan mengantarkan aku pada akibat terbaik pada akhirnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar